Begini ceritanya:
Aku tinggal di rumah peninggalan orang tua suamiku yang sudah wafat semuanya. Iya, ketika aku nikah dengan suamiku, aku udah nggak punya mertua. Awalnya, kita berencana tinggal di rumah orangtuaku di depok 1. tapi sepertinya suamiku lebih cenderung ingin tinggal di rumahnya saja. Toh rumah itu udah nggak ada yg nempatin kecuali adik iparku saja. Rumahnya lumayan gede. Jadi berasa banget isengnya adik iparku klo tinggal sendiri. Lagi pula suamiku akan lebih merasa “bebas” tinggal di rumahnya sendiri daripada numpang dengan mertua. Ya oke deh. Sebagai istri aku ngikut aja sih.
Yang bikin sedih, kondisi rumah suamiku tidak dianggap layak tinggal oleh ortuku. Jadi yah, selama nikah, aku dan suami bersabar2 saja dengar komentar ibu bapakku. Yang penting aku nyaman kok tinggal di situ. Namanya orang tua wajar sih klo mencemaskan aku anak perempuan semata wayangnya. Namun gimana lagi, namanya rezekinya ini ya terima aja kan lebih enak... hehehe. Udah berapa kali ortuku membujuk kami untuk pindah ke ruamh mereka. Iya sih. Rumah ortuku itu lebih nyaman tentunya. Kondisinya bagus walo nggak selalu barang2 yang ada di dalamnya harganya mahal. Suamiku tentu agak berat tinggal di rumah mertua. Taulah.. laki2 biasanya ogah tinggal di rumah mertua. Ga berasa rumah sendiri soale. Hehe.
Ukuran rumah suamiku itu (rumah peninggalan ortunya sih tepatnya), luas sekali. Hampir 200m2. di belakang rumah masih ada tanah kosong yang luas. Di depannya, ada tiga petak kontrakan milik keluarga suamiku. Suasananya lebih ramai. Maklum letaknya di kampung baru.. dekat cagar alam depok itu loh. Beda dengan rumah ortuku yang di perumnas.
Di rumah itu ada beberapa ruangan. Ada tiga ruangan yang dijadikan areal privasi bagiku, suami, dan anakku. Sisanya, ruang tamu, dapur, kamar mandi, gudang di samping rumah, jadi milik bersama. Adik iparku tinggal di petakan sebelah rumahku. Kalo siang, adik iparku dan kakak iparku masih suka berkumpul di ruang tamu, memakai dapur yang sama, dan kadang memakai kamar mandi kami. Aku nggak bisa protes karena status rumah ini adalah rumah keluarga. Statusku numpang di situ. Hehe.
Beberapa waktu lalu, kakak iparku ada yang mau pindah ke rumah itu. Jadi deh itu rumah dipermak ulang. Kini ruang2nya dibagi2 dan disekat2 dengan tembok. Aku tetap menempati ruang yang ada, ditambah satu ruang untuk kamar mandi dan dapur. Jadi sekarang, aku punya kamar mandi dan dapur sendiri.. alhamdulillah senaaangnyaaaaaaaaaa.....
Walau ukuran menjadi lebih kecil, aku merasa puas dan senang. Karena ruang kecil itu menjadi “milikku” sepenuhnya (walo status masih numpang, hehe). Pintu depan bisa kami kunci sehingga tidak ada yg bs masuk sebarangan. Dulu sih aku cuma bisa mengunci pintu kamarku saja.
Rumah kami yang berdempetan dengan rumah kakak ipar dan adik ipar memang masih belum sempurna. Kamar mandi dan dapurnya belum dirapikan karena keterbatasan dana. Tapi aku dan suami bertekad akan menyicil untuk memperbaiki yang kurang2. sehingga, semoga orang tuaku menjadi berkenan dengan rumah itu. Dan aku nggak diprotes mulu. Hihihi....
Doakan ya kami bisa merapikan rumah mungil kami menjadi rumah yang nyaman dan sehat! syukur2 bisa beli rumah sendiri.. amiiieenn!
gambar dari sini.



