Selasa, 23 November 2010

nostalgia buku berkesan

berdasarkan penilaian pribadi, loh.

aku mulai suka membaca buku sejak terdampar pertama kali di perpustakaan SMP. waktu itu, seingatku, aku masih duduk di kelas 2 SMP negeri di bilangan depok 1.

ada beberapa buku yang begitu berkesan bagiku. suatu saat, aku ingin sekali membaca ulang buku-buku ini.

1. Hulubalang Raja. Nur Sutan Iskandar. Balai Pustaka
Novel ini seingatku berkisah tentang kerajaan Minangkabau saat masih berperang melawan kompeni Belanda. Gaya bahasa melayunya begitu kental. tapi entah ya, aku seperti tenggelam mengikuti ceritanya. Isi ceritanya lupa-lupa ingat. yang masih aku ingat hanyalah kisah seorang pemuda yang kemudian menjadi Hulubalang Raja yang kemudian berkomplot dengan kompeni berperang dengan raja-raja minang lainnya. Endingnya, sang Hulubalang Raja akhirnya insyaf dan melupakan permusuhannya dengan raja-raja minang maupun aceh. buku inilah yang membuatku pertama kali jatuh cinta pada buku.

2. Si Jamin dan si Johan, Merari Siregar (1896-1940). Balai Pustaka. bercerita tentang dua anak yang tinggal dengan ibu tiri. ceritanya penuh dengan penderitaan. aku sedih saat membacanya. apalagi ketika membaca saat jamin meninggal dunia. ceritanya cukup mengharu biru.

3. Si DOel Anak Betawi, Aman Datoek Madjoindo. Balai Pustaka. Isi buku ini lucu sekali. berkisah tentang si doel yang lugu dan polos. dari buku inilah aku baru tahu ada nasi ulam, makanan khas betawi. tokoh si doel dalam buku lebih menarik daripada yang di film-film. walaupun penulisnya seperti orang melayu, tapi logat dan setting tempat dalam buku ini kental sekali betawinya. dijamin ngakak bacanya.

4. Serial Lima Sekawan. Enid Blyton. hampir semua judul sudah aku baca. judul yang paling berkesan itu menurutku adalah Memburu Kereta Api Hantu. ketika membaca semua judul dalam serial ini, yang membuatku terkagum-kagum adalah deskripsi makanan yang dibawa dan dimakan oleh lima sekawan ini kayaknya enak-enak semua. bikin ngiler.

5. Lupus. Hilman Hariwijaya. semua judul sudah pernah aku baca. dulu, rasanya nggak gaul klo belum baca buku lupus. isinya gokil abiz. tokohnya ada lupus, boim lebon yang punya julukan playboy cap duren tiga, si gendut Gusur.

6. Balada si Roy, Gola Gong. wah, isinya seru abis. tokohnya adalah si roy, si ganteng, baik hati, tapi rapuh itu. kisah hidupnya selalu pilu, tragis. dia senang sekali berpetualang ke tempat-tempat baru. di situlah dia mendapatkan pelajaran hidup yang berharga. yang berkesan bagiku adalah kisah ketika si roy ketika memandangi pelagi. suatu hari, papanya pernah mengajak roy naik ke atas genteng.
----
Hujan tiba-tiba saja reda. Awan yang tadi seperti mengurung berlarian entah ke mana. Matahari leluasa menyorot lagi. Kata orang-orang, ini juga panas. Biasanya kalau siang hari hujan dan sedang bernasib baik, di langit timur suka muncul warna-warna indah melengkung. Itulah pelangi.

Roy berdiri dan menuju jendela kelas. Dia mencoba melongok dan memandang ke langit. Dia lupa kalau saat itu sedang belajar.

"Ada apa, Roy?" tegur guru Bahasa Indonesia.

Roy tersipu dan duduk lagi. Tapi katanya, "Saya kira ada pelangi, Pak."

Kawan-kawan sekelas menertawakannya.

Roy meringis. Dia melempar pandang lagi ke luar. Dia yakin pelangi itu akan muncul. Sudah lama dia tidak melihat pelangi. Ingin sekali dia melihat warna-warna melengkung itu. Dia merasakan dadanya berdebar. Pada sorot matanya ada sesuatu yang ingin dikenang dan membuat hatinya jadi terharu.

Pak guru bisa menangkap gejolak muridnya itu. "Kamu ingin melihat pelangi, Roy?" Beliau menghampiri bangkunya.

Roy jadi serba salah. Tapi sorot matanya tidak bisa dibohongi.

Ada apa dengan pelangi, Roy?

"Bapak beri waktu lima menit, Roy, kalau ingin melihat pelangi," beliau bijaksana sekali.

Roy memandangnya tidak percaya. Ini luar biasa! batinnya. "Sungguh, Pak?"

"Lima menit!" Pak guru kembali ke meja depan.

"Lima menit, Pak!" Roy yakin kini.

Kawan-kawan sekelasnya menyoraki.

Roy tidak menggubris. Dia berlari ke luar kelas.

Pak guru memandangi remaja yang ke luar kelas itu. Ada sesuatu yang menyebabkan muridnya itu ingin melihat pelangi. Sesuatu yang menyimpan banyak kenangan. Sesuatu yang sebetulnya sudah tertimbun di hati paling dalam lalu tiba-tiba menyeruak lagi. Begitu pak guru menyimpulkan. Dan dia tidak bermaksud untuk menghalanginya.

Roy sudah berlari-lari. Dia menyeberangi alun-alun kotanya yang persis di depan sekolah. Dia berdiri memandangi langit timur. Lama dia menatap pelangi itu.

Perasaan takjub menyelimuti raganya.

Perasaan haru mengetuki hatinya.

Dia merasa berdebar-debar.

Peristiwa beberapa tahun ke belakang membias lagi. Ketika papanya masih hidup. Pernah suatu hari, ketika pelangi itu muncul, papanya mengajak Roy naik ke atas genteng. Mereka duduk-duduk di karpus sampai-sampai si mama menjerit-jerit menyuruh mereka turun. Tapi si papa tersenyum tenang saja.

"Pandangi pelangi itu, Roy ," kata papanya menunjuk langit timur. "Bayangkan tentang tujuh bidadari cantik sedang mandi di sana. Dan seorang bidadari turun memberikan selendang kepadamu serta mengajakmu terbang ke sana.

"Kalau kamu sudah besar nanti, Roy, setiap ada pelangi, jangan kamu lewatkan keindahan itu! Pandangi dan bayangkan seperti Papa ceritakan tadi. Nanti, saat itu kamu akan merasakan dan memperoleh suasana batin yang lain. Ketenangan, keterpesonaan, dan kegembiraan, semuanya melebur jadi satu sewaktu kita melihat pelangi," begitu kata papanya tempo hari.

Sekarang Roy baru bisa memahami kata-kata papanya. Tentang tujuh bidadari yang sedang mandi itu adalah legenda. Dan memandangi pelangi lama-lama tidak lain adalah agar kita selalu ingat kepada yang melukiskan warna-warna melengkung itu.

Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Dia seperti melihat papanya tersenyum di antara ketujuh bidadari pelangi itu. Kalau saja Mama melihatnya, wah, pasti cemburu buta.

Si Roy tampak sentimentil dan perasa hari ini.

Waktu lima menit sudah berlalu.

Dia berlari kembali ke kelasnya. Mengucapkan terima kasih kepada pak guru dan tidak menggubris ledekan kawan-kawannya. Dia duduk dan diam seribu bahasa. Matanya kelihatan murung dan melempar pandang ke luar lagi. Bayang-bayang pelangi masih saja membekas di matanya.

Ya, dia betul-betul sentimentil hari ini.

(balada si Roy, Solidarnos)
---
7. Api di Bukit Menoreh. SH Mintardja. berkisah tentang Agung Sedayu yang tanpa sengaja akhirnya terlibat dalam intrik politik kerajaan Mataram. penggambaran adegan adu ilmu kanuragannya keren. seperti menonton film silat dengan efek-efek yang natural dan elegan (halah).

8. Senopati pamungkas. Arswendo Atmowiloto. aku cuma sempat membaca buku pertama, kedua, dan ketiganya saja. berkisah tentang seorang tokoh bernama upasara yang memiliki jurus maut tepukan satu tangan.

-----

delapan dulu deh. kapan2 dilanjut lagi... kejar setoran dulu ya....


4 komentar:

  1. wah 2 suka baca juga yach woro..........AKu baca juga Enid byton...trus sama detektif Sherlock Holmes, tapi yang paling aku suka 'NINA" , dan yang masih tetep dibaca sampe skrg BOBO dan Donal Bebek ..he he he

    BalasHapus
  2. hihi.. jadi inget pas SD dulu.. suka ke perpus, dan paling seneng dg buku cerita Danau Toba dan cerita Putri Khayangan yg selendangnya diambil, sehingga ga bs pulang.. :)

    BalasHapus
  3. nice blog...keep posting

    BalasHapus